26 December 2007

Lepas Bayang Itu


Ridho el-Farizi


Aku tinggal di sebuah kamar kos seperti mahasiswa lain. Walau banyak aktivitas ku lakukan bersama orang banyak, namun pasti ada waktuku untuk sendiri di dalam kamar kosku. Itu yang aku tak mau!

Teringat bapak dan ibu di kampung. Dulu aku sering jengkel bila adzan magrib sudah bekumandang. Itu tandanya, aku segera bergegas dengan kain sarung, baju koko plus sebuah peci bertengger di kepala. Lalu pergi ke Mushala. Setelah itu, ibu bagaikan fitur reminder dalam HP, yang setiap hari tak bosan-bosan mengingatkan, “Davi, ayo ngaji! Walau hanya satu ayat.” Sebagai komentator, bapak pasti memperpanjang khutbahnya, sampai akhirnya beliau terpaksa mengeluarkan fatwanya sebagai penutup. Pelan dan pendek ucapannya, namun terasa dalam hingga ulu hati. Tetapi itulah sekarang yang ku inginkan!

Aku senang akan aktivitasku selain kuliah, yaitu menjadi seorang reporter majalah kampus. Aku bersemangat mengejar para narasumber untuk kuwawancarai dan kutulis menjadi sebuah berita. Dan kutak keberatan dengan deadline yang ditentukan Pemred, sehingga aku benar-benar belajar keras mendapatkan berita sesuai target. Mencari kejadian-kejadian khas bernilai sebuah news setiap hari untuk media online sangat kugemari. Sehinga hari-hariku benar-benar sibuk. Pulang ke kosan, kesibukan yang mengorbankan tenagaku, kubayar dengan istirahat tidur pulas. Namun kuusahakan tidak terlambat shalat dan sekedar melihat apa yang telah kutulis dalam binder tentang apa yang telah dijelaskan dosen. Tak kubiarkan diriku untuk berdiam diri di kos. Ya, ku usahakan semaksimal mungkin, meski terkadang sendiri memang menghampiri.

***

Hari minggu ini kumulai dengan lari pagi bersama Rivan dan Indra, ya, sekedar menghirup hawa pagi di sekitar gunung Manglayang. Olah raga yang paling digemari karena termasuk the ceapeast sport ini adalah tuntutanku. Dalam seminggu aku harus meluangkan waktu untuk semua anggota badanku ini agar mereka mendapatkan haknya untuk refresh. Dan, juga aku sadar akan kewajibanku untu menjaganya sebagai titipan yang Maha Pencipta agar senantiasa kudapat manfaatkan sebaik mungkin.

Setelah ku biarkan tubuh ini segar diguyur siraman air, tercium wangi sehabis aku usap busa-busa halus dari sabun yang kugosokkan. Aku telah siap dengan t-shirt berkerah dan jeans yang kemarin aku setrika. Kulirik jamku. Pukul setengah sembilan. Sambil menunggu Rivan dan Indra datang, aku duduk di teras sambil membiarkan hangatnya mentari dengan vitamin D-nya mengusap lembut kulitku. Terdengar lantunan Once dari kamar Rian yang berada di sebelah kamarku. “Dav, mau kemana nih? Dah keren gitu, makan dulu gak?” tiba-tiba Adri menepuk bahu dan menawariku makanan. “Mo ke Jatos, liat pameran buku!” jawabku. ”Wisy-wisy hebat neh mainannya buku,” celotehnya sambil menepuk bahuku seraya tertawa kecil. “Ngeledek lo...,” ku coba menepis tangannya sambil membalas senyumnya. ”Ayo makan,” ajaknya sembari berjalan ke kamarnya. “Ya thanks.”

***

Pukul dua siang. Aku kembali ke kosan. Rivan dan Indra juga pulang ke kamarnya masing-masing. Rumah dengan kamar-kamar yang berjajar ini terlihat sepi. Ya, maklum hari minggu, sebagian besar anak-anak pergi jalan-jalan, bahkan ada yang mencurahkan waktu khusus untuk orang tercintanya. Tapi memang ini sungguh sepi.

Aku masuk kamar. Merebahkan badan dengan menanggalkan t-shirt-ku di kastop. Tak lupa kuputar kaset lagu-lagu Indie. Dari pada suasana kamar sepi, seperti kuburan saja!

Tak sekedar mulutku ikut melantun seakan aku berada bersama dengan sang vokalis. Memang aku hobi nyanyi. Walau suaraku sama sekali gak ada bagusnya. Buktinya ikut Indonesial Idol terus-terusan saja gagal, tapi gini-gini pernah menjadi vokalis band di SMA. Narcis!

Tak ada mata kuliah yang harus ku kaji ulang. Tugas makalah untuk minggu depan selesai, hasil liputan tentang isu KKN akan dihapus tahun depan sudah kutulis, mencuci baju bukan hal yang tepat untuk siang seperti ini, sms-an dengan siapa saja malas, akhirnya kudiam dan membiarkan alam fikirku bebas liar berimajinasi.

Hingga yang selama ini, tak mau kufikirkan tiba-tiba masuk dalam otakku. Ku pejamkan mata, berharap tertidur pulas seketika dan terlupa. Namun tetap tak bisa! Ku angkat tubuhku, mengubah posisi tidurku. Kupikirkan apa yang belum kupirkan, tapi tak ada. Inilah yang kubenci diriku sendiri. Waktu yang selalu kuusahkan selalu terisi dengan sesuatu yang bisa membuatku sibuk dan terlupa, kini kosong dan hampa akan hal-hal yang positif.

Bapak guru yang kusegani dulu, tergambar jelas dalam benakku. Senyuman manis namun ternyata penuh ketidakikhlasan dan kepamrihan itu tiba-tiba tersirat dalam angan-angan. Sosok yang aku benci datang dan menghampiri dalam ruang imajinasi.

Sementara itu, ia hancurkan cita-citaku. Kesegananku akan keteladannya telah ia manfaatkan. Aku menuruti apa yang ia katakan dan ia perintahkan sebagai rasa hormatku dan kekagumanku pada kepiawaiannya. Hingga akhirnya aku dipaksa melakukan apa yang selalu terngiang kini dalam imajinasiku. Bapak guru yang terhormat berubah menjadi bapak guru yang terhina dina.

Ya Allah! Aku tertegun. Mencoba melepas bayang-bayang kelam itu. Pergi! Pergi! Pergi! Batinku. Namun tak urung nafsu setan mengizinkan hal itu pergi. Aku terlena dengan fantasi yang terlalu mengangan-angan. Aku menjadi lelaki plin-plan. Apa aku benci pada sang guru? Atau sebaliknya.

Pintu di ketuk. Kuterhentak. Segera ku buka pintu. Raka di depanku. Aku mengenalnya, namun entah apakah ia mengenalku. “Raka,” sambutku. “Kamu tau aku?” ia malah bertanya. Lalu untuk apa ia datang ke kamarku? “Ya, kita pernah kenalan waktu ta’aruf dulu.” Aku mengingatnya. Kita pernah bertemu saat kita masih ospek alias masa ta’aruf--istilah disini.

Ia terdiam sejenak. ”Oh, Daviana Firmansyah, kan?” Aku tersenyum. “Yap, tepat sekali! Ada perlu apa?” tanyaku. ”Oh, ini. Aku mo ngembaliin buku ke Adri. Tapi di sini kayaknya gak ada siapa-siapa. Aku cuma liat hanya kamar kamu yang lampunya nyala, jadi...,” ia terdiam sejenak. “Kamu mau nitip buku itu ke aku!“ aku sambung kalimatnya sambil mengira-ngira. “Oh, jadi keberatan nih! “ ia sok cemberut. “Ya, boleh dong! “ Aku tertawa. Entah mengapa dari obrolan singat ini kita serasa sudah akrab. Aku mempersilahkan dia duduk.

“Kos disini sendiri, Dav?” tanyanya sembari menyerahkan tiga buku pendidikan karena dia kuliah di fakultas pendidikan. Sedangkan aku kuliah di fakultas sains, jurusan matematika. “Sendiri, kenapa emang? Mau nemenin?” aku terus bercanda. “Maunya sih gitu,” jawabnya sambil tertawa. Kita sama-sama bercanda. “Tapi takut,” sambungnya. “Takut apa?” tanyaku heran. “Takut menimbulkan fitnah!” sahutnya sambil tertawa lebih keras. “Loh kok? Emang bisa?” tanyaku pura-pura bego. “Di Prancis, justru yang berduaan di kamar kaya kita yang dicurigai!” Kita kembali tertawa. “Aku juga takut,” aku pun tak mau kalah. “Takut kenapa?” tanyanya. “Takut terjadi hal-hal yang ‘diinginkan’.” Tawa kita kembali pecah.

Kita terlalu asyik ngobrol bahkan bercanda-canda. Parahnya, candaan kita selalu mengarah ke hal-hal yang memerlukan tanda kutip. Ia pun pergi dan berjanji akan main lagi.

***

Dua hari telah berlalu. Ba’da Ashar, aku kedatangan tamu yang sama dengan hari minggu, Raka. Hari ini memang aku gak kemana-mana. Sehabis kuliah, aku setor muka ke sekre, dan langsung pulang ke kos.

Aku dan Raka berbincang-bincang, ngobrol, sekaligus menanyakan aktivitas masing masing di luar kuliah. Ia aktif di teater. Namun tanpa bertanya, ia tahu kalau aku kini menjadi reporter kampus. Namaku kerap muncul dalam buletin garapan anak magang sepertiku. Duh, jadi reporter kecil-kecilan saja sudah terkenal, apalagi sudah jadi reporter handal di TV! Narcisku memang akut.

Aku sempat berfikir, kenapa cowok seperti Raka gak punya pasangan seperti halnya cowok gaul lainnya, ditambah modal yang cukup darinya! Ah, kutepis pikiran macam-macam ini. “Dav, suka jalan kemana kalau malam minggu?” tanyanya. “Jalan kaki ke Manglayang!” aku kembali membuang keseriusan. “Ah... bisa aja! Serius, kamu sama cewek kamu suka kemana?” tanyanya semakin penasaran. “Raka, aku gak mikirin cewek sekarang,” kataku singkat. “Berarti dingin, syerem dong!” Ia bergidik sambil senyum. “Ah, biar serem tapi senang kan!” Nah, aku mulai bercanda yang harus diapit tanda kutip. Kita tertawa. “Kamu sendiri?” aku balik bertanya. “Aku punya lah! Kita long distance gitu,” jawaban yang asal-asalan. Kuyakin itu hanyalah dalih atas ke-tengsiannya dalam menjawab kalau dia tidak punya cewek alias jomblo.

Tapi aku gak tertarik membahasnya atau sekedar bertanya lebih tentang ceweknya. Kita lanjutkan obrolan. Aku senang bisa ngobrol seperti ini, mungkin dia juga! Buktinya, dia masih betah sampai waktu hampir maghrib. Namun, aku merasakan hal yang berbeda dari keakraban ini. Candaan yang dibumbui sesuatu yang biasa dilakukan pria yang berusaha mendekati gebetannya.

Masyaallah! Waktu hampir magrib. Ashar yang terlupakan. Namun Raka masih terlihat asyik ngobrol denganku. Aku tak mau memecahkan keasyikan ini dengan menghentikan obrolan karena waktu ashar yang terlupakan.

Aku terbuai dalam kesenangan hati. Raka, sosok yang pernah kukenal dan kini menjadi dekat dan akrab. Bahkan aku rasa kedekatan ini lama-lama tidak lazim terjadi antara dua teman yang kedua-duanya adalah cowok.

Aku bersandar di bahuya, ia merebahkan badan di kakiku, ia memegang tanganku. Sampai pada malam hari, terlontar kata yang sama sekali tidak pantas terucap antara dua pria. Lebih pantas dikeluarkan diantara dua insan yang berkeluh kasih. Aku diluar batas kewajaran. Pikiranku sama sekali tak jernih.

Ini adalah minggu ketiga aku menjalani hubungan terlarang. Di sela-sela hariku selalu terbesit rasa penyesalan akan hal ini. Namun kepuasan batin selalu mengalahkan. Dalam kewarasan otak ini, aku ingin segera keluar dari ikatan haram ini, tapi bagaimana? Sulit sekali...

Aku sering sekali mendapat teguran dari pemred, karena tak menghiraukan deadline. Aku jarang berdiskusi dengan teman-teman sekelasku. Hari minggu malas sekali berolahraga. Bahkan sekedar coret-coret menggores pena diatas kertas, aku enggan. Yang ada dalam benak hanyalah Raka! Parahnya, aku semakin jauh dari Allah. Astagfirullah!

Sebuah sms tiba-tiba masuk. Kebetulan aku sedang bermalas-malasan di atas kasur. Malam ini dingin. Di luar, hujan dan angin kencang. Aku memilih membalut sekujur tubuhku dengan selimut tebalku. Kubuka sms, dari Raka. Senyumku melebar. “Dav, sory aku gak bisa terus kaya gini.”

Senyum tiba-tiba memudar. Aku terhentak, bagai petir di siang hari. Pesan ini, mengapa harus datang? Ada apa ini? Aku bingung, apa aku harus senang atau sedih dengan hal ini? Senang karena aku bisa lepas dari jerat-jerat setan, atau sedih karena rasa cinta ini tiba-tiba remuk, seperti orang yang merasakan broken heart. Aku balas sms-nya. “Kenapa, Ka?” Lalu ia membalas. “Aku bingung, apa ini baik dijalani atau tidak?”

Teramat berat bagiku. Pertanyaannya patut kupikirkan juga. Namun kutak bisa. Aku tak mau kehilangan Raka. Aku begitu sayang. Aku senang bersamanya, tapi apa mau dikata, aku mahasiswa dan harus dewasa. “Ya, kamu benar. Jangan dipaksakan. Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Lupakan aku!”

Keputusan berat saat kukatakan ia harus melupakanku. Namun itu cara terbaik. Biarlah tali silaturahim putus, daripada aku harus terbayang hal-hal yang tidak-tidak bila kumasih menjalankan hubungan dengannya, meski hanya pertemanan.

Rivan dan Indra sungguh terkejut dengan ceritaku. “Kenapa lo baru kasih tau sekarang?” tanya Indra serius. “Kita akan berusaha bantu dari dulu, sebelum ini terjadi!” tambah Rivan

Inilah cara terbaik terakhir. Mengungkapkan bebanku pada teman-teman baikku agar mereka bisa ikut men-support aku selalu. Agar aku selalu dibimbing atau hanya sekedar diingatkan.

Aku harus jalani hidup seperti biasa. Rasa sakit itu adalah hikmah. Itu harus terjadi, aku harus sakit hati karena Raka. Aku harus kembali dekat dengan Allah. Aku yakin Allah Maha Pengampun, walau hambanya berlumur cacat dan noda sepertiku.

Aku rindu tinggal bersama bapak dan ibu. Agar selalu diingatkan Shalat dan mengaji. Dan aku selalu benci sendiri! Walau sendiri akan selalu menghampiri.

15 Maret 2006

Zia

“Aa, pulang!” Suara mungil tiba-tiba menyambutku. Kubuka pintu pagar. Zia menghampiri, memelukku seketika dengan tawa penuh bahagia. Kucium dahinya. Kuusap kepalanya, tak lupa mencubit gemas pipinya.

Kubiarkan Zia tetap bermain bersama teman seusianya di teras. Kulihat Zia sibuk bermain-main warna dengan crayon yang dituangkannya dalam buku gambar. Gunung, matahari, dan rumah-rumahan. Mengingatkanku pada masa kanak-kanakku. Mama bilang, Zia adalah aku saat kecil.

Sekarang pukul empat sore. Sehabis salat dzuhur di mesjid kampus, aku memutuskan untuk pulang ke rumahku di Cianjur. Besok, hari Sabtu hingga Senin, tak ada kuliah. Tadi pagi, sebelum kuliah aku memaksakan diri beres-beres di kos. Buku-buku linguistik, kamus, hingga buku filsafat berserakan di lantai. Gelas-gelas kotor bekas ngopi semalam dengan beberapa kawanku harus kucuci. Dengan demikian, sepulang kuliah aku tidak harus ke kos terlebih dahulu. Tetapi langsung bergegas “pulang kampung.”

___

“A, sekarang Zia udah gak tidur sama mama, loh!” Kata mama saat kita berkumpul malam itu. Mama sedang menyetrika, papa membaca lagi koran yang tadi pagi sambil minum kopi.

“Oh, gitu yah! Pinter dong, ade Aa,” tanggapku. Kuraih adik kesayanganku yang baru lima tahun ini. Zia yang mungil dan sangat cantiik dengan kerudungnya duduk di pangkuanku. Ia baru pulang mengaji di madrasah sebelah rumah. Kupeluk erat. Begitu manis senyumnya.

“Ya, sekarang Zia pengennya tidur di kamar Aa. Sendiri lagi,” lanjut mama.

“Iya, dong kan udah gede,” sambung papa tiba-tiba.

Kan, mau masuk SD, ya?” Tanya ku langsung pada Zia.

“Aa, Zia maunya ke SD Bunda aja,” jawabnya polos menyebut nama SD tempat papa mengajar.

“Jangan,” sahutku seketika. “Ih, SD papa tuh di kampung. Zia mending disini aja, di kota!” kataku meledek SD-nya papa.

“Iya, kita ke sekolahan Tari aja, biar Zia bisa kursus komputer dari kecil,” tambah mama, menyarankan Zia masuk SD tempat saudaranya sekolah.

“Alah, dimana saja sekolahnya. Yang penting pinter,” kata papa ketus setelah SD-nya diledek terus.

Zia melepaskankan pelukanku. “Kalo nggak, Zia mau di SD Harapan aja,” tiba-tiba Zia berpendapat lagi.

“Idih, kok malah ke situ. Kampung, nggak. Kota juga bukan,” celotehku.

Aku dan mama hanya menertawakan celotehan Zia. Anak sekecil ini kok ngatur-ngatur, mau sekolah dimana. Memang, Zia ingin sekali masuk SD. Namun umurnya yang masih lima tahun belum diterima di SD manapun. Mereka menerima siswa yang genap enam tahun.

Menurutku, Zia sudah pantas di bangku SD. Bahkan dia sendiri yang menginginkannya. Ia kadang nampak sudah dewasa. Zia bosan dengan pelajaran yang ada di TK. Ya, memang aku yakin Zia sudah pasti menguasai semua materi yang ada. Dalam waktu dua bulan duduk di bangku TK, Zia sudah pandai menulis dan membaca. Lagi-lagi mama bilang, itu seperti aku!

“Di sekolah pun, Zia hanya bermain-main saja. Saya sudah tak perlu memberinya pelajaran. Karena Zia sudah bisa semuanya!” ujar Bu Fatma, guru TK-nya.

Hanya saja mama meminta Bu Fatma agar selalu memberi PR, agar Zia diam di Rumah, gak main-main jauh dari Rumah.

Zia juga jadi “selebritis” di kelasnya. Selain cantik, anak TK sekecil Zia ternyata sangat akrab dengan siapa pun. Pernah aku mengantarnya sekolah, ketika kebetulan aku ada di rumah, aku perhatikan banyak temannya yang berebutan ingin main dengannya. Bahkan lucunya, anak laki-laki kadang mengejarnya dan sesekali jail menciumnya. Untuk hal yang satu itu, Zia suka bersembunyi meminta “perlindungan“ pada gurunya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak pada masa yang pernah semua manusia alami. Masa-masa penuh tingkah tak berdosa.

___

Malam ini, Zia tidur di sebelahku.

“A, tau gak? Kalo Nabi Adam As tuh dulunya di syurga loh,” kepolosan si kecil membuatku gemas ingin mencubit pipinya. Aku menahan tawa mendengar Zia menyebut “As” dengan jelas.

“Iya, Nabi Adam dulu tinggal dalam syurga. Zia tau dari mana?” Aku balik bertanya sambil mengusap dahinya.

“Zia baca di majalah,” tubuh mungilnya bergeser, miring berhadapan denganku.

“Terus kita gak boleh loh, A, deketin pohon,” mukanya berubah menjadi serius.

“Kenapa emang?” aku yang dewasa menjadi penasaran.

“Iya, nanti kaya Nabi Adam, dipindahin dari syurga. Kan pohon ada setannya,” jawabnya. Aku sontak menahan tawa. Begitu lucu.

“Bukan begitu, sayang. Di syurga itu ada pohon yang buahnya beracun, jadi gak boleh dimakan. Eh, Nabi Adam malah makan buahnya, jadi Nabi Adam dipindahkan ke dunia,“ begitu penjelasanku. Semoga Zia tidak bertanya dan memperpanjang masalah ini, karena bila itu terjadi aku akhirnya akan menemui jalan buntu dan tidak bisa menjawab. Dan, saat itu Zia bilang, “Ya, Aa payah, gak bisa jawab!”

Untunglah, memang benar Zia tidak bertanya tentang yang aku ucapkan. Ia malah berkata,

“A, Zia pengen masuk syurga.” Ucapan yang cukup membuatku bingung. Ah, tapi itu kan ciri khas anak kecil, batinku.

“Makanya Zia harus nurut sama mama, papa, teteh, sama aa. Terus berdoa dan belajar salat!” kataku sambil mengelus-elus rambutnya agar mata bulatnya segera terpejam.

___

Dua minggu kemudian.

Mama memberitahukan kabar baik. Zia sudah nurut bila disuruh salat sejak dua minggu lalu aku pulang ke rumah.Walau kadang untuk salat Shubuh, Zia masih agak sulit. Maklumlah, jam enam saja ketika bangun, Zia pasti merengek-rengek ngantuk. Kebiasaan lazim anak kecil.

Aku senang dengan kebiasaan adik kecilku yang kusayang ini. Puasa tahun kemarin saja, ketika usianya empat tahun setengah, Zia lengkap melakukannya. Ia memang lain dari anak kecil lainnya. Dan, sekali lagi kukatakan, kadang ia nampak dewasa. Teringat ketika papa iseng bertanya,

“Zia, nanti mau kuliah dimana?”

“Di UIN, kaya Aa,” jawabnya serius. Anak seumuran itu biasanya jarang menanggapi hal seperti itu.

“Kok, di UIN, emang mau jurusan apa?” tiba-tiba tetehku menimpali jawaban innocent Zia.

“Matematika.”

Tawa kita pecah. Mama, papa, teteh, dan aku yang kebetulan Minggu itu berkumpul menanggapi jawaban-jawaban Zia yang sungguh menggelikan, bagi kami.

“Ih, mending di teteh, UPI?” kata teteh tak mau kalah.

“Gak apa-apa di UIN, biar pinter bahasa Arab,” jawabku berkompentisi dengan teteh.

“Emang Zia mau jadi apa?” sambung papa.

“Jadi guru.”

Kembali ceria siang itu. Memang tak habis cerita tentang Zia. Ia begitu menghibur. Walau cukup lama terpaut usia 12 tahun denganku, aku begitu sayang padanya.

“Gimana kalau Zia jadi dokter?” Tiba-tiba mama melanjutkan obrolan penuh keriangan ini.

“Gak mau ah, malu,” tiba-tiba jawabannya serius.

“Kenapa?” tanyaku.

“Gigi Zia kan roheng!” Kembali kepolosannya memaksa tawa kita tumpah.

___

Adzan Magrib berkumandang.

Semua bergegas bersiap-siap menghadap Ilahi dalam ritual lima waktu dalam sehari. TV masih menyala, biasanya dimatikan sejenak. Ketika hendak kumatikan, Zia tiba-tiba mencegahnya.

“Jangan, A. Zia pengen denger nyanyian ini,” katanya yang ingin mendengar lantunan indah Letto yang ada di Tv.

“Zia kan mesti ngaji,” jawabku agak sedikit keras.

“Ih, bentar dulu…”

Terpaksa kuturuti. Semua orang di Rumah tahu. Lagu itu sangat disukai Zia. Bila muncul video klipnya, Zia akan menghentikan sejenak segala aktivitasnya untuk sekedar melihatnya dan melantun mengikuti irama dan suara sang vokalis band tersebut.

___

“A, Nabi Muhammad tuh udah mati ya, A,” Zia kembali bercerita di malam itu.

“Meninggal,” koreksiku, “Ya, sekarang nabi Muhammad sudah meninggal.”

“Sekarang ada dimana?”

Ada di syurga.”

“Kata Bu Guru, nanti kita bisa ketemu Nabi Muhammad.”

“Iya, asal kita jangan lupa salat, ngaji, berdoa, dan nurut sama mama papa terus jangan cengeng”

Zia tampak seksama mendengarkan.

“Dan jangan jajan terus!” Lanjutku.

Suasana hening sejenak. Aku terdiam. Tumben, Zia pun terdiam, tak banyak bertanya lagi. Tak seperti biasanya.

“A, Zia pengen cepet ketemu Nabi Muhammad,” aku tertegun mendengarnya.

“Zia pengen cepet ke syurga,” tambahnya. Lagi-lagi yang dibicarakan syurga. Hal itu memang terkesan biasa, namun aku cukup memikirkannya. Nada bicaranya begitu serius. Ah… Aku tak boleh berlebihan. Itu memang wajar dari seorang bocah anak TK.

___

Sekarang aku ada di rumah. Besok aku kembali ke Bandung.

Malam ini Zia sakit. Badannya panas. Aku sedih bila Zia sakit. Badannya yang kecil terlihat lebih mengurus bila sakit.

Papa nampak bingung, apa harus dibawa ke dokter sekarang juga. Mama pun tak kalah panik.

Kutemani Zia di kamar mama. Mukanya pucat, kupegang keningnya begitu panas, bibirnya pecah-pecah.

“Zia, jangan sakit. Besok Aa pulang ke Bandung. Nanti Aa bawa oleh-oleh,” ucapku sambil mengelus-elus kepalnya. Kubenarkan selimutnya. Zia tampak murung, badannya tampak lesu, hawa sakitnya begitu kurasakan.

“A, pijitin kepala Zia,” pintanya. Suara dari mulut kecil ini terdengar begitu lemah.

“Iya, sayang!” Kudekap adikku sayang. Kupijat halus kepalanya. Ia bilang kepalanya sakit.

Mama menyuruhku keluar kamar untuk membeli obat. “Biar mama yang temani Zia,” kata Mama. Namun ketika kuberanjak, tangan mungilnya mencegah.

“Aa, jangan pergi!”

“Bentar sayang, Aa mau beli obat dulu,” kataku seraya mengecup keningnya. Terlihat benar Zia tak mau kutinggalkan. Tapi aku harus menuruti mama…

Pagi hari. Aku harus kembali ke Bandung, besok ada kuliah. Tapi kondisi Zia masih buruk. Hari ini papa akan membawa ke dokter. Mama menyuruhku untuk tenang, karena bagaimanapun aku harus kuliah, apalagi minggu depan ujian semester. Pagi ini kupulang ke Bandung.

“Zia, Aa pulang dulu. Minggu depan Aa gak pulang soalnya Aa ujian. Cepat sembuh, ya, dek! Nanti Aa bawa oleh-oleh.”

Kukecup keningnya. Tersirat penuh doa. Walau berat, aku pun berangkat.

___

Seminggu berlalu. Aku tak pulang dari Bandung. Senin lusa, aku ujian semester. Setiap hari kutanyakan kabar Zia, mama bilang tidak apa-apa. Mama menyuruhku agar tenang.

Entah mengapa, aku tak percaya. Ucapan mama di telepon terdengar begitu tak jujur. Tapi aku harus yakin. Mama juga benar, aku harus tenang mengahadapi ujian dan tak boleh berpikir macam-macam tentang Zia.

Pagi di hari Sabtu. Kuintip, langit cerah. Tetapi aku malas melakukan aktivitas, walau sekedar keluar kamar, stretching, atau menyambut mentari.

Air mata menetes tanpa kubuat. Pipiku basah. Tanganku seketika mengusap. Aku menangis? Kenapa? Auk tak sedang memikirkan hal-hal yang membuatku sedih. Aku tak kenapa-napa. Apa fisikku ada yang terluka? Tidak.

Benak terasa berat. Ruang fikirku terhambat sesuatu yang buatku mengharu-biru. Entah apa? Air mata membanjiri pipi, jatuh bertetes-tetes. Aku sangat sdeih. Tapi entah mengapa? Aku sedih dan ingin menangis tersedu-sedu. Ya, Allah, ada apa ini…

___

Malam ini, aku tanyakan kabar Zia. Kata mama, Zia baik-baik saja. Namun hati tak tenang. Lagi-lagi kumenangis. Menangis tanpa sebab!

Minggu pagi yang pas untuk bermalas-malasan. Kumengurung diri di kamar hingga sore, dan tak terasa malam menjelang… Aku tertidur, padahal belum begitu malam, pukul setengah delapan.

Drrrt… Getar Handphone mengusik tidur karena kuletakkan dekat telinga. Tetehku menelepon.

“A, Zia ada di ICU RS Hasan Sadikin.” Kuterperanjat. Mulutku seperti disumpal, tak dapat berkata-kata. Air mata mendahului keluar,.

“Jadi, Zia dibawa ke Bandung?”

“Ya, adek koma sejak dibawa dari Cianjur. Adek belum juga sadar.”

Begitu HP diputus, tanpa berfikir panjang, kubergegas memakai jaket dan berangkat menuju rumah sakit. Jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Mudah-mudahan masih ada angkutan umum.

Angkutan Kota melaju cepat di jalan A.H. Nasution. Tiba-tiba sebuah SMS masuk. Dari tetehku.

Za, kata papa gak usah kesini. Zia mungkin akan pulang. Besok Aa ujian aja yang tenang.

Kuperkirakan ini baru seperdelapan perjalanan. Aku turuti apa kata teteh yang juga perintah papa. Kuturun dari angkot, dan kembali pulang ke kosku di Cibiru. Kududuk sejenak di bundaran Cibiru setelah turun dari angkot. Lalu lalang mobil dan motor mengusik pandangan.

Aku tak dapat memberi rasa tenang pada jiwa. Apalagi setelah kubaca SMS tadi. Tersurat kata “mungkin.” Itu berarti bukan hal yang pasti. Aku beranjak. Kuputuskan kembali menaiki Angkot untuk pergi ke rumah sakit. Walau papa melarangnya!

Sepanjang perjalanan, jantung berdegup kencang. Hati gelisah. Peluh dingin membasahi di malam berangin Kota Bandung. Jari-jari begitu gugup mengetik keypad HP. Kukirim SMS, sekedar menanyakan,

Zia sudah sadar?

Akan tetapi jawabannya,

Belum

Angkot melaju begitu kencang. Malam hari memang tanpa hambatan. Namun sungguh terasa lama. Kepalaku terus menengok kanan-kiri, tak urung juga kusampai di rumah sakit.

Kukirim kembali SMS yang sama. Namun jawabannya pun sama.

Kukirim lagi. Jawabannya tetap sama, belum.

Kukirim lagi.

Kukirim lagi. Jawabannya sama.

Kusampai di Rumah sakit.

Bismillahirohmanirrohim…

Kulangkahkan kaki dengan cepat. Kulari secepat mungkin menghampiri ICU. Kehadiran teteh langsung menghentikan langkahku tiba-tiba. Teteh memelukku erat. Dadanya bergetar, ada sesuatu yang terisak-isak.

Kupegang dua bahunya. Kudiam.

“Zia, sudah pulang…”

Innali…”

Bibir kelu. Dunia seperti runtuh, dan kuterhimpit reruntuhannya. Kata-kata terhenti. Langkah juntai. Kudipapah menghampiri sesosok jasad berbalut selimut. Aku tak mau tahu itu siapa.

Kulari sekencang mungkin.

Berharap temukan kembali sentuhan hangat. Memandangi kerlingan mata yang indah. Senyum bibir yang tipis manis.

Keterangan :

* Teteh : Sebutan untuk kakak perempuan

* Aa : Sebutan untuk kakak laki-laki

* Roheng : gigi jelek, hitam atau berlubang


(Ridho el-Farizi)

26 September 2007

PAPAJAR

Ridho el-Farizi

Puasa tinggal dua minggu lagi. Tepatnya dua belas hari lagi. Tapi kata Abah, bisa jadi ada yang tinggal sebelas hari lagi. Mereka itu orang-orang yang ingin lebaran lebih cepat, sambungnya. Mereka memang sudah beda akidah, tambahnya di sela-sela bincang-bincang kita di bawah bohlam 10 watt.
“Bukan,” kata A Usep menyanggah. Sewaktu ngaji habis magrib, aku tanyakan kok ada yang beda akidah? “Itu Cuma masalah perbedaan, kata Nabi perbedaan itu rahmat,” lanjutnya. Aku tak bertanya lebih lanjut, percuma, aku tak kan mengerti.
Masalahnya, dulu waktu Pak Karim baru pindah ke kampungku, lalu salat Subuh berjamaah, ia tidak mengikuti imam mengangkat tangan untuk qunut. Abah berkomentar, ia berbeda akidah dengan kita. Tapi kata A Usep, akidah kita sama, yaitu Islam. Sebetulnya, A Usep bicara panjang lebar, tapi saat itu aku malas mendengarnya dan sekarang sudah lupa.
***
Sudah, ah. Aku tak tertarik bicara itu. Yang jelas, kalau bulan puasa tiba, orang-orang di kampungku pasti memeprsiapkan diri untuk papajar. Papajar itu jalan-jalan sebelum puasa. Aku biasanya papajar dengan keluargaku juga.
Sore ini, aku dan teman-temanku beristirahat di pinggir wahangan. Tadi kita sudah bermain galah di lapangan. Lalu kita bertukar cerita tentang rencana papajar. Banyak yang akan papajar keluar Cianjur.
Ujang rencananya akan ke Bandung. Uh, sampai umurku empat belas tahun, aku belum pernah ke kota yang namanya Bandung. Padahal A Farid, anaknya Pak Kades, suka bercerita tentang Bandung kalau ia sedang pulang kuliah. Katanya perempuannya gareulis, banyak mal, dan juga hiburan lainnya. Tapi kata A Usep lain lagi ceritanya, bahkan perempuan Cianjur lebih gareulis.
Isah sudah sepakat akan pergi ke Pelabuhan Ratu dengan keluarganya. Bahkan Rama akan pergi ke pantai juga, Pangandaran. Lalu aku berfikir lagi, ingin sekali pergi ke pantai; Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Pantai Carita, atau Ancol. Tapi, ke Pantai Jayanti saja –yang masih di Cianjur—aku belum pernah. Apalagi sekarang Emak bilang, “sieun tsunami.” Padahal aku yakin, alasan utamanya karena Abah tak punya uang.
Ketika aku ditanya, aku agak gugup karena bingung. Keluargaku belum punya rencana kemana-mana. Tahun kemarin pun hanya mayor di kebon awi Bi Icih. Di kaki Gunung Mananggel, yang hanya berjarak dua puluh langkah kaki dari rumah bilikku. Lalu aku pamit pulang saja, hendak bertanya pada Abah, tentang papajar tahun ini.
Seingatku, riwayat papajarku hanya sejauh ke Kebun Raya Cibodas. Dengan menempuh tiga kali naik turun angkot, kita dapat papajar dan mayor disana. Seabreg lauk dengan timbel disediakan untuk memuaskan diri sebelum sebulan harus menahan rasa lapar dan haus. Papajar terjauh itu, yaitu ketika aku duduk di kelas tiga SD, lima SD, dan satu SMP.
“Bah, kemana kita akan papajar tahun ini? Tanyaku langsung ketikabegitu saja kubuka pintu rumah yang reot.
Abah diam. Tak bergeming seikit pun. Kepulan asap dan bako yang dihisapnya. Hhh, kesal. Kucari Emak.
“Mak, kemana kita akan papajar tahun ini?” Tanyaku antusias. Ingin sesekali pergi ke tempat yang lebih menawan.
Emak menatapku lama. Ia masih memegang boboko berisi piring-piring bersih yang telah dicuci. Kemudian jongkok di depan tungku.
“Kita mah mayor saja di rumah Uyut.”
“Rumah Uyut?”
Kupasang raut wajah kecewa. Mengapa sekian tahun papajarku selalu dilalui di kampong ini. Aku iri dengan teman-teman yang lainnya. Mereka bisa memilih seenaknya, kemana mereka akan papajar.
***
Menghitung hari, puasa tinggal tujuh hari lagi. Sebagian teman sudah pergi papajar. Ada juga yang belum, namun pasti mereka akan pergi. Ke tempat yang mereka inginkan, tentunya.
Semua sibuk dengan rencana mereka sendiri. Sedang aku hanya mengurung diri dari keramaian. Tak ingin bermain dengan teman-teman, karena malas menjawab pertanyaan mereka, “Kemana Udin papajar?”
Aku menepi di wahangan. Duduk termenung di atas cadas. Bertanya pada air yang mengalir, mengapa aku jadi anak tak beruntung.
“Udin!” Sebuah suara memanggilku.
“A Usep,” sapaku. A Usep menghapiri. Tampaknya ia baru pulang dari ladang.
“Udin kamana wae? Kata Emak, kamu sakit. Sudah lama gak ngaji. Lagi ngapain disini?” Kemudian A Usep duduk di sebelahku.
“Udin gak kemana-mana, A,” jawabku singkat. Kumasih menatap percikan air dengan muka sedih.
“Kenapa, Din, kamu ada masalah?”
Aku menggeleng.
“Ayo, Din, cerita sama A Usep sekarang?”
Aku diam. Pura-pura tak mendengar, kemudian A Usep mengulang pertanyaannya. Aku terpaksa bicara.
“Gini, A. Udin pengen papajar,” ucapku sambil menatap A Usep. Lelaki tinggi berkulit putih itu pun memelukku.
“Tadi, Emak bilang lusa mau mayor di rumah Uyut. Emak ngajak A Usep.”
“Tapi itu bukan papajar.”
“Kata siapa? Itu papajar, Udin. Emang menurut kamu papajar itu kemana?”
“Dari dulu, Udin papajar di kampung terus. Padahal yang lain, selalu jalan-jalan ke tempat wisata, bahkan keluar kota, “ kataku tertunduk.
A Usep menghela nafas. “Oh, itu masalahnya,” katanya sambil mengelus rambutku. Hening sejenak.
“Din,” lanjut A Usep, “Kamu tahu gak papajar itu apa?”
Aku menggeleng.
“Dulu masyarakat kita senang bila menyambut bulan Ramadan. Namun mereka tidak tahu kepastian hari pertama merka harus puasa. Jadi mereka beramai-ramai datang ke mesjid Agung untuk menanyakan kapan puasa dimulai.”
Aku memerhatikan A Usep. Aku belum mengerti apa hubungannya ucapan A Usep dengan papajar.
“Setelah sampai di mesjid Agung, orang-orang berzikir, bersalawat, dan mendengarkan tausiah dari penghulu mesjid. Mereka terus beribadah, sampai penghulu mesjid memberitahukan kapan awal puasa.”
“Terus?” Tanyaku. A Usep melepas pelukannya.
“Setelah tahu kapan puasa dimulai, baru mereka pulang ke kampong masing-masing. Nah, itulah papajar!”
Aku diam tak berkomentar.
“Sekarang, kebiasaannya jadi berbeda. Entah kenapa dan sejak kapan. Orang lebih suka jalan-jalan, bersenang-senang, bahkan menghambur-hamburkan uang. Padahal inti dari papajar adalah ibadah dan berzikir. Semoga Ramadan masih kita temui. Sekarang ini banyak bencana, ke laut tsunami, dekat gunung meletus, tidak di keduanya pun bahkan ada banjir dan gempa. Seharusnya orang banyak ibadah dan lebih dekat kepada Allah. Bukan senang-senang yang dapat melenakan dan melupakn Allah. Jadi, lebih bagus kita hanya menyambut Ramadan dengan mayor di rumah uyut saja. Berbagi kebhagiaan dengan keluarga. Insya Allah terhindar dari maksiat, tak seperti bila kita pergi ke tempat-tempat wisatta, potensi maksiatnya besar.”
Aku diam termenung. Beranjak meninggalkan A Usep sendiri, hendak pulang dan bertanya pada Abah,
“Kemana kita akan papajar tahun ini?”

5 Ramadan 1428 H, !7 Sept 2007


Papajar: Acara dalam rangka menyambut Bulan Ramadan, biasanya dengan jalan-jalan dan makan; Aa: Sapaan kepada lelaki yang lebih tua; Sieun: Takut Abah: Bapak; Emak: Ibu; Wahangan: Sungai; Gareulis: Cantik-cantik; Mayor: Makan bersama; Uyut: Orangtua nenek-kakek; Kamana wae?: Kemana saja?










22 June 2007

Lelaki Itu

(Sebuah Cerpen)


Aku mengaguminya.
Sewaktu shubuh, ia menjadi imam. Lantunan Fatihah beserta potongan ayat-ayat Ilahiah terdengar begitu meluluhkan hati yang mendengarkannya. Setiap yang mendengakannya? Aku tak tahu, yang jelas itu yang kurasa.
Setelah itu, ia membalikkan badan kepada para jamaah. Sekilas pandangku tertuju pada mata teduhnya, namun lekas kualihkan kedua indera penglihatanku ini. Kita semua duduk, mendengarkan tausiahnya dengan seksama.
Aku mengaguminya. Kalimat mayor yang selalu terbesit dalam hati sejak ia menjadi imam, kala itu.

♥♥♥

Aku memulai kuliah. Akhirnya Masa Orientasi Mahasiswa baru yang digelar Himpunan Mahasiswa selama sepekan lalu berakhir sudah. Aku senang. Tak ada lagi caci maki para senior. Tak ada lagi hukuman sportif, edukatif, atau rekreatif lagi. Sepekan lamanya, aku tak membantu ibu membuat kue dagangan. Sekarang aku kembali membantunya.
Namun, mungkin aku tak kan memasang telinga untuk mendengar dendang firman Allah dilantunkannya. Suara jernih yang selalu tersimpan dalam memori. Selaras dengan teduh parasnya yang bercahaya.
Masya Allah! Aku kembali terlena.
Mulanya kusimpan hal ini dalam hati. Terkunci rapat. Tak kan ada seorang pun yang akan kubagi cerita indah ini. Namun ku terlanjur bercerita pada Lili, teman baikku. Kurasa ia berhak tahu. Bahkan, sekarang kusadari ia wajib tahu hal ini. Karena sesungguhnya ku tak mau terlena dengan cerita penuh kemasyhuran dan kesenangan batin ini. Apa ini? Mengapa ku begini?
Aku mengaguminya. Kuulang kalimat itu pada Lili.
“Itulah pandangan pertama,” Lili berkata pendek. Kita duduk di pelataran mesjid kampus. Kumenengadah. Langit begitu cerah, batinku. Secerah hatiku. Namun sebetulnya aku gundah!
Ya. Memang Lili benar. Itu akibat pandangan pertamaku. Pandangan pertama memang diakui orang sebagai sesuatu yang menggoda, sarat keindahan dan ketakjuban akan yang dipandang.
Segera kutepis. Senyumku tiba-tiba datar. Memang benar pandangan pertama itu begitu menggoda, melenakan bahkan. Dan, kuakui itu adalah bagianku, hakku, milikku, atau mungkin rezekiku. Sepert yang dikatakan Rasulullah pada sahabat Ali bin Abi Thalib. Namun beliau mengatakan, bahwa pandangan berikutnya justru mencelakakan. Persisnya perkataan beliau, seperti pernah diungkapkan ustadzah Fatimah sewaktu ta’lim.
“Wahai Ali, jangan engkau susul pandangan pertamamu dengan pandangan yang lain, sebab pandangan pertama menjadi bagianmu sedangkan pandagan kedua dan seterusnya justru mencelakaknmu.”
Ahh…
“Nay,” Lili memecahkan fikiranku. Astaghfirullah, aku telah mengabaikan Lili yang semenjak tadi duduk di sebelahku.
“Sebaiknya kamu bilang aja sama dia terus terang.”
Aku memerhatikan ucapan Lili. Aku terdiam. Aku bukanlah orang yang pandai mengomentari ucapan orang. Jadi aku hanya diam. Sesekali aku hanya memberikan senyum pada Lili. Ingin sekali kubertanya, meminta pendapat lain, mengomentari pendapatnya, atau apa saja agar perbincangan ini tidak kaku, kosong, atau dingin, bahkan hambar tanpa interaksi yang hidup. Namun sekali lagi aku tak bisa. Mungkin Lili pun memahami watakku.
“Aku mengagumimu,” kalimat terpendek yang kukatakan waktu itu. Namun kukatakan dengan berjuta ton pemberat di bibir ini. Bahkan keringat tak sadar basah di berbnagai anggota badan. Namun setumpuk beban di dada baru saja musnah.
Di pelataran rumah Allah yang megah ini, kududuk bersebelahan dengan Lili. Sekira beberapa sentimeter, mungkin satu meter, duduk sesosok yang selalu buat malamku semakin berbintang, pagiku bersinar hangat, yang selalu merasuk menjadi buluh perindu dalam hari-hariku.
Ia hanya tersenyum, ketika sekilas kupandang. Hanya sekedar melihat ekspresinya, ketika begitu lancang seorang wanita yang semestinya begitu menjaga hatinya dari ucapan-ucapan yang semestinya tak ia ucapkan. Aku tak peduli.
Begitu panjang proses untuk akhirnya kuberkata seperti itu. Lagipula aku hanya berkata bahwa kumengaguminya. Apa ku salah?
“Tidak!” tepis Ridwan kala itu. Salah seorang teman baikku juga. Ia terlanjur tahu –entah dari mana—dan kuberanikan meminta pendapatnya. Ia dikenal dengan pendapat-pendapatnya yang brilian, cara fikirnya yang sistematis, tentunya dengan “wejangan-wejangan” yang bijak disertai solusi yang jitu. Walau ku harus maklumi, pendapatnya terlalu “gaul” dan mungkin kurang sesuai denganku. Ya, karena dia... Ups, aku tak mau jadi ghibah.
“Bahkan lebih dari itu, lebih dari bilang sekedar kagum, kamu berhak, Nayla! Sekarang ini cewek nggak harus jaim tuk sekedar menyatakan maksud hati. Kalau terus kita diam, kapan si cowok tahu kalo kita suka sama dia. Nanti yang ada, kita sengsara.” Aku hanya tersenyum, menyimak pendapatnya. “Udah, sekarang beraniin aja bilang, aku yakin dia bukan tipe cowok yang akan menilai kamu yang enggak-enggak. Percaya deh!”
Kita memang satu jurusan, bahkan sekelas. Bisa jadi Ridwan lebih mengetahuinya daripada aku, karena mereka sama-sama lelaki. Sedang aku, hanya gadis pemalu yang tidak perlu mencari tahu tentang kesehariannya, seperti wanita lain yang sedang berburu idamannya, bahkan terkadang wanita itu harus mengorek-orek kesana-kemari tentang kehidupan pribadi idolanya dari teman atau kerabatnya.

♥♥♥

Sebuah SMS. Kubaca,
Maaf, tadi tidak sempat jawab.
Kubalas,
Tidak apa-apa. Malam begini, gi ngapain?
Baru selesai pengajian. Kamu sendiri, gi ngapain?
Lagi bantu ibu buat kue.
Ku balas tanpa pertanyaan. Aku bingung.
Nay, sebetulnya aku juga mengagumimu. Aku menyukaimu.
Sebuah senyum melebar di wajahku. Namun aku sendiri tak tahu apa yang harus kulakukan, apa yang harus kuucapkan.
Aku memang mengatakan apa yang selalu mengganjal di ulu hati. Aku mengaguminya. Itu saja. Aku tak mengaharapkan jawaban, karena sebetulnya ku tak bertanya. Tapi ia berkata hal yang sama. Aku juga mengagumimu, kemudian, aku menyukaimu. Aku tak percaya apa yang ia ucapkan. Apa maksudnya? Apa ini…
Ya. Ini cinta. Yang semua orang punya. Perasaan dalam hati manusia yang telah lahir semenjak manusia lahir. Yang menurut Kahlil Gibran, keindahan sejati. Yang selalu dijadikan tema dalam setiap film, lagu, dan novel. Yang membuat dua insan bergandengan tangan, berduaan, bermesraan, walau tanpa ada ikatan yang syah…
Tiba-tiba saja aku bergidik.
Tapi ia bilang suka?
Apa ia memang memiliki perasaan cinta padaku?
Aku sendiri tak memahami diriku. Apa rasa kagumku hanya sebuah kiasan belaka. Padahal aku sendiri terjerumus pandangan yang membuat dampak seperti ini.
Aku tahu cinta itu kewajaran. Itu fitrah manusia. Kembali teringat perkataan ustadzah Fatimah, “Tak mungkin seseorang menghindar dari rasa cinta, kecuali orang itu keras hatinya, kurang waras alias gila.” Berarti aku memang merasakan cinta dan tak mungkin menghindar dari cinta.

♥♥♥

“Ly, aku nyesel dah bilang terus terang,” aku tiba-tiba mengadu pada Lili, siang itu.
“Kenapa nyesel?”
“Aku malu, masa wanita berani-beraninya…”
Lili memotong ucapanku, “Nay, daripada kamu terus-terusan dibebani perasaan, kan?”
“Nggak, pokoknya aku harus meluruskannya.”
“Meluruskan apa, Nay?” kata Lili sembari merapikan kerudungnya.
“Aku harus bilang, bahwa aku hanya mengaguminya, gak lebih,” kataku tenang.
“Kamu jangan bohongi perasaanmu, Nay!” kembali Lili menatapku tajam. Kuterdiam. Aku tak tahu harus bicara apa lagi.
Sebelumnya aku tunjukan sms darinya pada Lili. Memang semalam aku merenungkannya. Aku tak mau terus-terusan dirundung rasa yang begitu menggebu.
Tiba-tiba saja, malam itu, kuingin menepis rasa manis yang bersemayam di hati saat ini. Ku harus menghijab hati. Lebih mendekatkan diri pada Sang Maha Pemberi Cinta.
“Sudahlah, jalani saja!” Tiba-tiba Lili membubarkan lamunanku. Seperti biasa, ku hanya diam dan tersenyum. Senyum yang menyembunyikan rumitnya permasalahan batin ini.
Ridwan muncul di depan kita. Ia mendekati kita. Awalnya ku malu melanjutkan pembicaraan dengan Lili. Namun tak ada salahnya Ridwan ikut berpartisipasi dalam kegelisahanku, ya, untuk dapat pemecahannya. Mudah-mudahan. Kita bertiga berdiskusi seperti merundingkan suatu perkara yang teramat penting. Padahal kurasa ini bukanlah hal yang penting. Sangat tidak penting, bahkan!

♥♥♥

“Ya, aku lumayan pusing juga sih,” ucp Ridwan saat mendengar keluhanku. Ia menghela nafas panjang. “Takutnya, pendapatku gak sesuai yang kamu inginkan. Aku gak bisa ngasih solusi yang gimana gitu…”
Aku mengerti apa yang ia ucapkan. Ia mungkin canggung denganku. Ia mungkin takut kalau solusinya –lagi-lagi—gak terlalu religius. Padahal kan tidak semestinya begitu. Toh aku ini wanita biasa-biasa saja, sama seperti teman yang lain. Hanya saja, sebutan sebagian teman, yakni “akhwat,” kadang membuatku malu karena membuat mereka, apalagi laki-laki –seperti Ridwan—menjadi terlihat canggung.
“Nay, yang saya tahu cinta itu rahmat dari Allah. Maka beruntung Nay bisa merasakannya.”
Aku dan Lili hanya diam memerhatikan Ridwan. Sebetulnya aku ingin tertawa geli , apakah Ridwan menyadari ucapannya begitu “dalam” dan islami.
“Nay mungkin lebih tahu ayat-ayat Al-Quran mengenai ini, seperti Ali Imron 14 atau At-Taubah 24, dan yang lainnya.”
Kulihat Lili tersenyum. Pasti yang ia rasakan sama denganku, terpukau mendengar Ridwan berbicara dalil, walau hanya menyebutkan nama surat dan ayatnya. Padahal kuyakin, ia hafal bunyinya.
“Jadi mengingat rasa cinta itu datang dan diciptakan oleh Allah, mengapa harus kita sia-siakan, harus kita tepis, atau bahkan kita bunuh? Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah membangun cinta itu dengan iman. Karena iman yang akan mengingatkan kita, bila ada yang terlarang akan kita lakukan!”
Hening sejenak. Tak satupun diantara kita yang berbicara.
“Tapi aku gak begitu, kamu salah duga,” aku terpaksa bicara.
“Salah duga bagaimana?” Tanya Ridwan serius.
“Aku sebetulnya ngaak…,” aku ragu mengucapkannya.
“Gak cinta?” Sambung Ridwan cepat. “Sudahlah, Nay. Kamu jangan memungkiri hati kamu sendiri.”
Aku kembali terdiam. Lili pun begitu.
“Rasa kagum itu hanya di mulut saja. Ketika kamu bicara berdua, eh bertiga, dengannya, kamu gugup. Di kelas bertanya atau menyapa, malu. Nay, kamu kan tahu, menurut imam Syafi’i, kalau perkataaan yang runtut menjadi kacau dan rahasia tersembunyi menjadi mencuat, itulah cinta!”
Lagi-lagi ku tak menduga dengan pendapat Ridwan. Anak gaul yang juga anak band ini begitu bijak bahkan bernuansa islami sekali. Bila ku berani, inginku acungkan dua jempol untuknya.
“Tapi kan gak ada konsep pacaran dalam Islam?” Aku bingung harus bilang apa lagi. Kutanyakan hal ini saja. Entah apa yang akan Ridwan katakan.
“Aku gak nyuruh kamu pacaran, kok. Tadi aku udah bilang, kalau cinta dilandasi iman, maka yang terlarang akan urung dilakukan, termasuk pacaran. Cinta yang begitu indah akan ternoda bila tidak dilandasi hal itu.”
Pebincangan ini seperti milikku dengan Ridwan saja. Kulirik Lili yang dari tadi tak bergeming menatap Ridwan. Apa Lili masih terpana melihat Ridwan yang sungguh di luar dugaan.
“Jadi, gimana? Aku gak ngerti maksud kamu.”
“Pacaranlah! Buat sebuah kemesraan percintaan. Tumpahkan rasa kagum itu padanya. Sandarkan hati dalam ketenangan iwa bersamanya, tentunya dalam sebuah ikatan yang halal!”
Aku terperanjat. Ikatan halal? Maksudnya, aku harus…
“Ah, yang jelas aku gak mungkin ngelakuin itu. Wan, aku ingin melupakannya!”
“Kenapa tak mungkin?” Kita bukan lagi anak SMP atau SMA. Menikah itu mungkin-mungkin saja. Tapi ya… kalau kamu tetap ingin melupakannya, tak ada cara lain. Jangan curhat padaku, tapi curhatlah pada Yang Maha Mendengar. Serahkan semuanya pada Maha Pemberi Cinta. Dalam shalat malam, teruslah meminta petunujuk dari-Nya agar kamu dapat segera menyelesaikan hal ini.”
Sebuah tepuk tangan. Lili yang dari tadi diam menghentak tepuk tangan.
“Uhhh… pak Ustadz, keren banget tausiahnya!” pujinya pada Ridwan. Ridan tersenyum geer.
Aku diam, diam, dan diam. Namun sebetulnya kumerenungkan kata-kata Ridwan. Apakah sudah buntu jalan dari manusia sehingga ku harus mengembalikan semuanya pada Allah.
“Nay, sudah hampir Ashar, kita ke mesjid sekarang!” Lili melirik jam, ia mengajakku ke mesjid sekarang. Kita berdiri bergegas.
“Oh ya, Nay. Kalau kamu ngerasa belum mampu. Tenang saja! Kamu tahu kan bagaimana firman Allah dalam An-Nur 33?”
Aku tersenyum mengangguk. Lili menepuk bahu Ridwan. “Uhh… aku semakin terharu,” ucapnya sambil tertawa.
Aku segera pergi ke mesjid bersama Lili. Tak lupa mengucapkan banyak terimakasih pada Ridwan.

♥♥♥

Malam ini sulit mata terpejam. Kumerenungkan semua ucapan teman-teman, Lili dan Ridwan.
Aku mengaguminya. Selalu terbesit dalam angan, kalimat itu. Apa jalan terbaik dari semua ini adalah apa yang diucapkan Ridwan tadi?
Menikah. Aku bukan tak mau. Mustahil, bila aku tak mau. Aku tetap akan menjalankan apa yang dilakukan Rasulullah sebagai sunnahnya. Karena ku tak bisa menjadi Rabiah Al-Adawiyah, yang begitu cinta pada Sang Khaliq, sehingga menolak lamaran Abdul Wahid bin Zaid, Muhammad bin Sulaiman Al-Hasyimi, sampai yang terkenal, Hasan Basri.
Tetapi permasalahnnya, apakah lelaki itu mau?
Teringat ucapan Lili sehabis Ashar tadi.
“Ia santri. Ia begitu sholeh dan tawadhu. Ia juga pintar. Yang jelas ia pantas bagimu. Apa yang kamu mau, pasti ia mau. Apa yang kamu tak mau, ia pun pasti tak mau.”
Ahhh. Mengapa kegundahanku melebar hingga berujung pada menikah. Namun ku harus memerhatikan ucapan terakhir Ridwan bahwa ku harus menyerahkan semua pada Sang Maha Pemilik Cinta, Pemberi Rahmat dan Fitrah.
Segarnya tetesan air suci membasahi semua anggota wudhu. Kuambil mukena, dan kuhamparkan tempatku bersujud tuk mengahadap Keindahan Tiada Tara. Akan kupanjatkan beribu puji kepada-Nya, karena hanya Dia yang patut dipuji.
Dan kepada lelaki itu, aku mengaguminya. Hanya mengaguminya.

Ridho el-Farizi


Malam...

Malam…
Ku tak ingin meninggalkanmu
Kau adalah bagian dari hari–hariku
Yang takkan kulewatkan

Malam…
Ku takkan bosan menjumpaimu
Tuk sama-sama mengendarai perahu cinta dalam samudera kerinduan
Ku kan selalu bersamamu
Mewujudkan makrifat dan hakikat

Malam…
Adakah pertolongan untukku dalam meraih jiwa yang suci
Duhai malam… kan ku sucikan jiwaku
Dalam sujudku
Aku bertafakur dan berdzikir
Malam yang kian sunyi
Malam yang kian gelap
Malam yang menyimpan rahasia kehidupan

Aura Azkia